rss

Sunday, December 5, 2010

Film Horror Berjudul "Naluri Gelandang"

Selesai laga ujicoba kontra Timor Leste di Palembang, Minggu (21/11/2010) lalu, di ujung konferensi pers dalam ruang doping Stadion Jakabaring, okezone sempat berbincang dengan kapten kesebelasan Indonesia yang baru, Firman Utina.

"Apa sudah enak role yang Anda mainkan di tengah, terutama komunikasi antargelandang?" tanya okezone. Firman menjawab tak ada kendala, semuanya lancar saja.

Menyusul pertanyaan kedua okezone, "Bachdim tadi sering diumpan bola-bola sulit yang kencang, dia butuh tenaga ekstra untuk mengejarnya. Apa itu karena Anda dan gelandang yang lain belum kenal benar cara dia bermain?"

Jawab Firman, Irfan suka mencari ruang kosong, umpan-umpan daerah seperti itu yang dia butuhkan bukan hanya tinggal tendang saja di mana dia cukup berdiri diam di tempat menunggu bola tanpa perlu berlari menjemput lagi.

Perbincangan pun berakhir. AFF Suzuki Cup 2010 dimulai.

Setelah itu, "Palembang Impact" menemukan dampak positifnya bagi kegairahan di skuad tim nasional Indonesia. Dua laga awal versus Malaysia, Rabu (1/12/2010), kemudian kontra Laos, Sabtu (4/12/2010), berakhir dengan menang telak dan skor mutlak. Tampilnya para pemain cepat-tangkas penuh percaya diri, berikut tempo tinggi, ditimpali koordinasi rapi dalam organisasi permainan dipertunjukkan seluruh dada bidang atletis berotot Garuda Merah-Putih.

Tapi buruknya sepakbola cuma satu: penonton selalu lebih pintar dari pemain. Postulat itu di mana pun berlaku di seantero dunia.

Lawan Thailand dan di semifinal nanti bila mau efisien, umpan silang dari Syukur harus diarahkan lebih variatif. Bola lambung parabolik yang terlalu 'dalam' masuk langsung ke mulut gawang mudah dipetik penjaga gawang di udara. Bola angkat Zulkilfi di malam versus Negeri Jiran buruk hasilnya, tapi bukan berarti dia dilarang mencoba lagi. Perbaikan itu mulai dia tunjukkan saat menghadapi Laos.

Lebih jauh menilai performa timnas Indonesia, terlihat jelas dinamika seimbang di kedua sayap. Di kiri, Nasuha terfokus kerjanya mengawal pertahanan. Tak kecil pula perannya melaju kencang, menyilangkan si kulit bundar, sampai bek Malaysia bunuh diri, menyamakan skor, membangkitkan mental bertanding 10 rekannya.

Di depan Nasuha, mobilitas Oktavianus Maniani lebih konstan menyerang. Sedangkan M Ridwan dapat lebih intensif diinstruksikan bermain menjorok lebih ke dalam demi membantu Bustomi sebagai gelandang jangkar bayangan. Sesekali saja Ridwan mengais peruntungan di sisi yang melebar ke kanan. Maka, normal jadinya kalau Syukur diperintah “main angkat” saja.

Naluri serang milik para gelandang Indonesia sudah masuk kategori 'mengerikan' seperti film horror bagi pemain Laos dan Malaysia. Hanya tiga gol dikemas penyerang: Gonzales (1) dan Bachdim (2). Sisanya dibagi rata Ridwan, Firman, Arif (2) dan Okto (1). Kalkulasi gol itu bukan berarti para striker bemain lebih buruk dari pemain tengah. Kedewasaan duet Irfan-Cristian patut diapresiasi tersendiri. Mereka sopan mempersilakan rekan-rekannya yang lain juga dapat nama.

Pengatur serangan Firman Utina masih sesekali "main paksa" terdorong naluri kreatifnya. “Main paksa” yakni, umpannya sering memaksakan diri untuk ditendang kuat dan jauh langsung mengacau barisan pertahanan lawan. Sejauh ini “pemaksaan” ala Firman menemukan harinya: pergerakan antarlini pemain jadi terjalin dalam ruang yang lebih luas dari sekadar mematuhi range-marking dalam patron 4-4-2, apalagi ditimbali pula taktik umpan pendek kombinasi yang efektif.

Bustomi perlu sedikit main jadi aktor. Dia bisa lebih menghayati perannya sebagai gelandang jangkar. Sebuah kartukuning, dari cara menjegal yang mestinya tak perlu dilakukan, sudah dia kantongi saat menghambat pemain Laos yang menguasai bola bukan di zona berbahaya.

Tak ada yang perlu dibahas soal bagaimana menyerang. Sebab Maman Abdurrahman pun sudah tahu di mana letak gawang musuh. Hitunglah sendiri berapa jumlah gol.

Kalau boleh jujur, okezone suka dengan perkataan pelatih Alfred Riedl, "Seharusnya Indonesia jadi nomor satu atau paling tidak nomor dua di Asia Tenggara." Maka, mengalahkan Malaysia dan Laos harus jadi kegiatan rutin sehari-hari seperti kalau kita sedang kebelet hendak pergi ke belakang. Tak perlu berlebihan jumawa.

Performa Indonesia kontra Malaysia dan Laos tak banyak berbeda. Kini kewaspadaan perlu dinaikkan levelnya karena calon lawan di semifinal dari Grup B mulai "membaca" sepak-terjang Indonesia.

okezone

Misi Berat Persebaya di Papua

Setelah menuntaskan tiga laga kandang, Persebaya Surabaya bakal menghadapi partai keras. Yakni partai away menghadapi tuan rumah Perseru Serui pada Minggu (5/12) dan Persidafon Dafonsoro empat hari kemudian.

Atmosfir sepakbola di Papua memang dikenal sulit bagi tim-tim Jawa, termasuk Persebaya. Kubu Bajul Ijo mengakui terlalu muluk jika menargetkan poin penuh di kedua partai itu. Sangat wajar jika target realistis hanya menahan tuan rumah.

Asisten pelatih Persebaya Bambang Sumantri menuturkan timnya optimistis bisa merebut minimal satu poin menghadapi Perserui dan Persidafon. Dengan catatan, permainan Kuncoro dkk mengalami peningkatan setelah bermain kurang memuaskan di tiga partai kandang.

“Peningkatan permainan harus dilakukan jika ingin mendapatkan poin. Semoga strategi yang kita usung berjalan dengan baik dan pemain tidak minder dengan kekuatan lawan,” ujar Bambang. Dirinya memaklumi pemain baru merasakan pertandingan tandang untuk pertama kalinya.

Itu bukan perkara mudah, karena di kandang saja tim berlogo ikan dan buaya masih kesulitan menemukan permainan terbaik. Kekalahan 0-1 atas PSBI Blitar di Gelora 10 November masih menghantui Persebaya dan diharapkan tak meruntuhkan mental pemain.

Secara garis besar tak ada perubahan pada komposisi pemain. Duo Charles Orock dan Cornelis Kaimu masih dipandang sebagai juru dobrak terbaik. Mereka akan didukung pemain super senior Kuncoro yang sekaligus ditugasi sebagai kapten.

Sisi keuntungan Persebaya adalah kemenangan 3-1 atas Persekam Metro FC di Gelora 10 November. Staf pelatih pun berharap kemenangan itu bisa menjadi pelecut untuk bermain bagus di partai tandang. “Kemenangan itu sangat berarti bagi kami,” cetus Bambang.

Sementara itu, dari Semarang, Persebaya versi Liga Primer Indonesia (LPI) mencatat hasil memuaskan di pertandingan pra musim LPI. Dari dua laga, tim asuhan Aji santoso menculang kemenangan beruntun. Setelah menggulingkan Semarang FC 1-0, kemarin Persebaya LPI menggilas Bali Dewata FC 3-0 di tempat sama, Stadion Jatidiri.

Kemenangan Persebaya LPI ditentukan I Made Wirahadi (’17), serta gol ganda Andik Vermansyah (’34 dan ’82). Kendati masih diliputi rendahnya produktifitas, pelatih Aji Santoso cukup optimistis timnya bakal berkembang lagi.

Sayang Aji sendiri dibayangi sanksi dari AFC, setelah PSSI merekomendasikan Aji sebagai pelatih ‘pembelot’ karena ikutserta di LPI. Sanksinya bisa saja pencabutan lisensi kepelatihan. Aji pun masih belum banyak berkomentar.

“Soal pertandingan, memang masih banyak kelemahan dan saya akan terus benahi. Saya yakin kualitas anak-anak masih bisa ditingkatkan. Untuk kabar soal PSSI yang akan melaporkan saya ke AFC, saya belum bisa bicara sekarang,” ujarnya.

okezone

Komdis PSSI Cabut Sertifikat Lima Wasit 'Bandel'

Komisi Disiplin (Komdis) PSSI memberikan sanksi tegas kepada lima wasit ISL yang dinilai membandel karena telah melanggar statuta PSSI. Sanksi tegas tersebut berupa larangan aktif di dunia sepak bola Indonesia, seumur hidup.

Kelima anggota korps baju hitam tersebut adalah Mudjito asal Surabaya (pengawas), Fiator Ambarita (wasit), Winarno Bachtiar (asisten wasit), Ahmad Sukamdi dan wasit cadangan, R.A. Mas Agus. Mereka diganjar sanksi tegas berupa pencabutan sertifikat yang telah diberikan PSSI, serta larangan bertugas di semua ajang yang dibawahi oleh PSSI.

Hukuman ini sendiri dijatuhkan komdis pada Kamis sore tadi setelah melakukan sidang keempat. Kelimanya dianggap telah melanggar statuta PSSI dengan memimpin sebuah laga yang digagas sebuah organisasi tanpa bentuk di Stadion Persikabo, Cibinong, Bogor, 29 November lalu. Selain enggan menyebut kompetisi yang dipimpin kelima laga tersebut, Komdis juga enggan menyebutkan secara detil pertandingan yang mereka pimpin.

Sanksi tegas ini sendiri dijatuhkan Komdis setelah menerima memo internal dari Ketua Komite Wasit PSSI Togar Manahan Nero Simanjuntak. Setelah mempelajari dan membahas pelanggaran yang mereka lakukan, Komdis akhirnya menjatuhkan sanksi tegas pada Kamis sore tadi.

“Mereka telah terbukti melanggar statuta PSSI. Jadi, kami tak perlu lagi memanggil mereka untuk memberikan keterangan. Berdasarkan Kode Dispilin PSSI, maka, Komdis selaku satu-satunya badan peradilan di PSSI menjatuhkan hukuman kepada kelima wasit tersebut,. Mereka juga tak bisa melakukan banding atas keputusan ini,” demikian diungkapkan ketua Komdis PSSI, Hinca Pandjaitan dalam konferensi pers di kantor PSSI, Kamis (2/12/2010).

Selain itu, Hinca juga mengumumkan bila pihaknya saat ini masih memproses insiden kericuhan yang terjadi saat duel PSM kontra Semen Padang pada Sabtu 28 November kemarin. Hingga kini, Hinca menjelaskan, Komdis belum bisa menjatuhkan sanksi karena belum punya cukup bukti. Sejauh ini, mereka empat orang untuk dimintai keterangan. Mereka adalah Fathony, wasit Aeng Suarlan, Deny Marcel (pemain PSM) dan Panpel pertandingan tersebut.

okezone

Arema Tak Bermimpi Tinggi Di LCA

Drawing grup Liga Champion Asia (LCA) tak lama lagi digelar, tepatnya Selasa (7/12/2010) di Kuala Lumpur Malaysia. Sebagai salah satu wakil dari Indonesia, selain Sriwijaya FC, Arema FC nampaknya tak terlalu euforia menyambut drawing tersebut.

Manajer-Coach Arema FC Miroslav Janu tidak terlalu ambisius dalam mengantarkan Singo Edan ke level Asia. Sebagai pelatih yang pernah membawa Arema ke LCA pada 2007 silam, Miro rupanya paham benar bagaimana persaingan di sana.

Baginya, level klub Indonesia masih jauh di bawah klub Asia lainnya. Merekam perjalanan pada 2007 lalu, Miro merasakan bagaimana sulitnya mengimbangi tim asal Jepang, Korea Selatan, maupun tim asal Asia Tenggara seperti Thailand.

Karena itulah dirinya tetap berpijak ke bumi. Artinya, tim kebanggaan Aremania tidak serta merta mengusung misi terlalu menjulang. “Untuk lolos fase grup saja sudah sulit. Itu yang perlu diketahui. Kita menghadapi tim-tim yang bagus,” ujar Miro, mantan pelatih Slavia Praha.

Miro mengakui tim Indonesia, termasuk Arema, belum bisa disandingkan dengan kekuatan Asia. Baik dari kualitas pemain, mental maupun pendanaan, Indonesia masih jauh di bawah negara lain yang masuk LCA. Perbedaan itu bahkan tak menjamin tim Indonesia sukses, sekalipun di kandang.

Ia menunjuk tim asal Indonesia yang pernah berjibaku di ajang tersebut. Belum pernah ada yang benar-benar kompetitif dan merajai fase grup. Itu diprediksi juga akan terjadi di LCA musim ini, dimana Indonesia mengirimkan Arema dan Sriwijaya FC. Sementara Persipura kebagian jatah di AFC Cup.

Dalam drawing di Kuala Lumpur nanti, Indonesia bisa saja bertemu tim asal Jepang, Korea Selatan, China, atau bahkan Australia. Sedangkan untuk aturan pemain, LCA hanya memperbolehkan empat pemain asing dalam satu klub.

Itu artinya Arema bakal menghapus salah satu dari lima pemain asing yang bercokol di klub. Kini klub berlogo kepala Singa mempunyai Pierre Njanka, Roman Chmelo, Esteban Guillen, Noh Alam Shah dan Muhammad Ridhuan. “Kita masih pertimbangkan siapa yang tidak didaftarkan ke LCA,” tambah Miro.

Selain perbedaan kekuatan, Arema juga harus memeras kantong karena jelas butuh anggaran yang tak sedikit di LCA. Sedangkan untuk saat ini saja Arema belum mendapatkan sponsor tambahan dan terpaksa terlambat menggaji pemainnya.

Sementara itu, kemarin skuad Arema menuju Pulau Bali dalam program Training Center (TC) alias pemusatan latihan. Di Bali, pemain bakal digembleng materi latihan fisik maupun teknik, dengan rencana menyelipkan dua agenda ujicoba.

Setelah menyelesaikan program TC, Pierre Njanka dkk bakal disuguhi ujicoba menghadapi tim Indonesia Super League (ISL) di Malang. Tim yang bakal menyambangi Arema adalah Persela Lamongan, Persibo Bojonegoro, hingga Persijap Jepara.

okezone

Arema Berharap Imbas Timnas

Kemenangan tim nasional Indonesia atas Malaysia tak hanya dinikmati masyarakat Indonesia saja. Terbukti, pelatih Arema FC Miroslav Janu juga gembira melihat hasil itu.

Gembira karena sejumlah pemainnya bercokol dalam tim asuhan Alfred Riedl. Lima pemain Singo Edan menjadi punggawa tim nasional, yakni Achmad Bustomi, Benny Wahyudi, Kurnia Meiga, Zulkifli Syukur, serta Yongki Ariwibowo. Itu belum termasuk Dendi Santoso yang juga sempat bergabung tim nasional sebelum akhirnya tereliminasi.

Miro sangat berharap tren positif tim nasional bakal terus berlanjut. Dengan kemenangan, secara otomatis akan memberikan konfidensi maupun kematangan kepada pemainnya saat mereka kembali ke klub.

"Saya senang melihat pemain Arema ikut menjadi bagian tim saat menang atas Malaysia. Dari sisi pengalaman tentu akan bertambah, selain itu hasil positif akan memberikan kepercayaan diri untuk pemain," kata pelatih berpaspor Republik Ceska tersebut.

Miro pun ingin permainan di tim nasional bakal menular saat mereka kembali ke klub dalam lanjutan kompetisi Januari nanti. Itu akan sangat berbeda seandainya tim nasional mendapat hasil buruk, yang dipastikan bakal mengurangi konfidensi pemain.

Pilar Singo Edan yang mendapatkan porsi besar di tim nasional selama ini adalah Achmad Bustomi dan Benny Wahyudi. Sedangkan Zulkifli dan Yongki lebih banyak sebagai pemain pengganti. Pemain yang masih harus bersabar adalah Kurnia Meiga karena masih menjadi bayang-bayang Markus Haris Maulana.

Arema sempat menyuplai satu lagi kekuatan muda ke tim nasional, yakni striker Dendi Santoso. Namun pengalamannya yang minim masih kalah dengan striker senior lain macam Christian Gonzales, Bambang Pamungkas, atau Irfan Bachdim.

Kendati demikian Dendi tetap menjadi pilihan Miro di tim utama musim ini. Ia menggeser Fahrudin yang sempat merajai sayap kanan kala Arema masih dikendalikan Robert Rene Albert dan menyabet juara Djarum Indonesia Super League (DISL) 2009-2010.

Dendi merupakan hasil orbitan Miroslav Janu yang sering memberikan kepercayaan di tim utama. Miro sendiri menilai Dendi berpotensi menjadi punggawa tim nasional. "Dia muda dan punya kualitas. Tapi dia harus bersabar dan bekerja keras dulu," tandas Miro.

Sementara itu, mulai 4-11 Desember ini, Singo Edan bakal berada di Bali untuk menjalani program pemusatan latihan. Program ini baru dijalankan saat jeda kompetisi karena saat pra musim belum ada agenda pemusatan latihan.

Kendati Singo Edan sendiri tengah dalam krisis keuangan dan belum mampu membayar gaji pemain, namun program tetap dijalankan. Sebelumnya beberapa pemain sempat meminta program di Bali dihapus dan biayanya untuk membayar gaji pemain.

okezone

PSM Mengadu ke AFC & FIFA

Manajemen PSM Makassar akan melaporkan berbagai kasus yang terjadi selama menjalani Indonesia Super Liga 2010/2011 ke Asian Football Confederation (AFC) dan Federation International Football Assosiation (FIFA). Berbagai keanehan dinilai telah terjadi termasuk keputusun Komisi Disiplin PSSI yang mendiskreditkan PSM.

Ketua Umum PSM ILham Arief Siradjuddin dalam keterangan pers di cafe De Luna Jl. Ahmad Yani Makassar, Minggu (28/11/2010) mengemukakan, pihaknya akan mengadukan berbagai ketidakadilan yang dialami “Pasukan Ramang” selama menjalani ISL 2010 ini. Menurutnya, organisasi sepakbola tingkat internasional itu akan lebih bijak menyikapi persoalan di tubuh PSM dibanding PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia, red).

"PSSI tidak mampu menyelesaikan pengaduan PSM di sana. Mereka tidak mampu memberikan solusi dan keputusan tegas dan tepat atas protes yang kita ajukan. Tentang wasit dan sanksi atas Coach Roberts dari Komdis PSSI, "ujar Ilham yang juga walikota Makassar periode kedua ini.

Ilham mencontohkan, protes PSM pada kepemimpinan wasit Setiono saat PSM menjamu Bontang FC di Stadion Mattoanging 31/10/2010 lalu. Saat itu, Wasit Setiono dinilai tak memberikan hak PSM untuk tendangan penalti. Padahal pemain belakang Bontang FC blunder dengan melakukan backpass (umpan dari pemain belakang kepada penjaga gawang, red) ke kipernya sendiri. "Setiono malah melakukan pembiaran. Tak mengambil tindakan apapun, "ujar Ilham yang akrab dipanggil Aco ini.

Karena itu, Ilham menegaskan PSM akan meminta PSSI mengusut tuntas hal tersebut. Jika tidak, laporan ke AFC dan FIFA bukanlah gertak sambal semata.

Jika permintaan itu tak diindahkan kata dia, PSM akan meninjau ulang keikutsertaannya dalam ISL 2010/2011.

"Untuk apa kita mengikuti sebuah kompetisi yang hanya akan menghambur-hamburkan uang rakyat. Saya mencairkan dana APBD Makassar hingga Rp 12,5 miliar untuk kompetisi ini. Kami takkan segan untuk berlaga di kompetisi lain, "pungkasnya.

PSM telah beberapa kali melayangkan protesnya ke Badan Liga Indonesia dan PSSI terkait keputusan para wasit dari beberapa pertandingan. Namun belakangan, malah pelatih PSM Alberts Robert Reene yang dilapor balik oleh wasit Setiono.

Akibatnya, Robert diberi sanksi tak boleh mendampingi Tim Juku Eja saat berlaga melawan Persiupura Jayapura pada 15 Januari Nanti. Robert juga harus membayar denda sebesar Rp 50 juta sesuai keputusan Komisi Disiplin PSSI tempat Setiono melapor.

okezone

Laga PSM Makassar Rusuh

Laga kandang PSM Makassar menjamu tamunya, Semen Padang FC di Stadion Mattoanging, Makassar, Sabtu (27/11/2010), berakhir rusuh. Ribuan suporter PSM mengamuk ke tengah lapangan dan merusak beberapa fasilitas stadion.

Aksi rusuh massa dimulai saat pertandingan memasuki babak kedua. Memasuki menit ke-79, saat pertandingan masih berlangsung, puluhan suporter dari tribun terbuka utara merangsek masuk ke areal lapangan. Mereka mendobrak terali pembatas tinggi sekira 4 meter, yang memisahkan tribun penonton dengan areal lapangan pertandingan.

Penonton melempar ke tengah lapangan sambil mengeluarkan kata-kata kasar yang ditujukan kepada wasit Aeng Suharlan asal Bandung yang memimpin jalannya pertandingan tersebut. Benda berupa botol air mineral dan balok kayu dilemparkan ke tengah lapangan. Aksi berlangsung sekira 3 menit dan hanya diamankan oleh Panitia Pelaksana (Panpel) PSM yang berada di pinggir lapangan, termasuk dari pihak manajemen yang ada di areal lapangan tersebut.

Aparat kepolisian yang bertugas mengamankan jalannya pertandingan yang berada di areal tribun tertutup utara dan selatan hanya melihat kejadian tersebut beberapa saat. Namun saat melihat Panpel tak dapat mengendalikan situasi dan Panpel meminta bantuan, ratusan aparat kepolisian dari Satuan Brimob dan Samapta Polda Sulselbar ini kemudian bergerak masuk ke dalam lapangan.

Mereka berusaha menenangkan situasi yang sudah memanas. Pasalnya, suporter yang mengamuk sudah mencapai ratusan orang, mereka bahkan masuk ke tengah lapangan dan bertambah semakin banyak dan membawa balok kayu, batu, ada juga beberapa di antaranya busur yang diarahkan kepada aparat keamanan dan wartawan yang meliput pertandingan. Kejadian ini berlangsung sekira 10 menit.

Sementara itu, di areal tribun tertutup utara-selatan, ribuan penonton lainnya berdiri mengamati dan beberapa di antaranya berteriak meminta para suporter tersebut untuk tenang. Namun imbauan itu tidak diindahkan suporter yang marah. Kemarahan suporter melalui kata-kata kasar tetap ditujukan kepada wasit. Mereka sama sekali tak menyinggung kejengkelan pada pihak lain.

Wasit dinilai suporter tidak berlaku adil karena tidak mengakui hands’ball pada menit ke-70 yang dilakukan Park Chul Hyung, pemain belakang Semen Padang FC, di dekat gawangnya sendiri. Karena kejadian ini, menurut mereka, PSM yang seharusnya mendapatkan hadiah tendangan penalti hanya diberikan tendangan bebas.

Situasi dapat terkendali saat beberapa orang dari manajemen PSM termasuk, ketua umumnya Ilham Arief Siradjuddin, memasuki lapangan mengimbau para suporter untuk mundur dan meninggalkan lapangan sambil meminta mereka tenang. Setelah itu situasi mereda.

Laga PSM vs Semen Padang FC dinyatakan panitia pertandingan selesai walaupun masih tersisa sekitar 7 menit pertandingan dengan posisi 0-1 untuk Semen Padang FC.

okezone
 
eXTReMe Tracker