Selesai laga ujicoba kontra Timor Leste di Palembang, Minggu (21/11/2010) lalu, di ujung konferensi pers dalam ruang doping Stadion Jakabaring, okezone sempat berbincang dengan kapten kesebelasan Indonesia yang baru, Firman Utina.
"Apa sudah enak role yang Anda mainkan di tengah, terutama komunikasi antargelandang?" tanya okezone. Firman menjawab tak ada kendala, semuanya lancar saja.
Menyusul pertanyaan kedua okezone, "Bachdim tadi sering diumpan bola-bola sulit yang kencang, dia butuh tenaga ekstra untuk mengejarnya. Apa itu karena Anda dan gelandang yang lain belum kenal benar cara dia bermain?"
Jawab Firman, Irfan suka mencari ruang kosong, umpan-umpan daerah seperti itu yang dia butuhkan bukan hanya tinggal tendang saja di mana dia cukup berdiri diam di tempat menunggu bola tanpa perlu berlari menjemput lagi.
Perbincangan pun berakhir. AFF Suzuki Cup 2010 dimulai.
Setelah itu, "Palembang Impact" menemukan dampak positifnya bagi kegairahan di skuad tim nasional Indonesia. Dua laga awal versus Malaysia, Rabu (1/12/2010), kemudian kontra Laos, Sabtu (4/12/2010), berakhir dengan menang telak dan skor mutlak. Tampilnya para pemain cepat-tangkas penuh percaya diri, berikut tempo tinggi, ditimpali koordinasi rapi dalam organisasi permainan dipertunjukkan seluruh dada bidang atletis berotot Garuda Merah-Putih.
Tapi buruknya sepakbola cuma satu: penonton selalu lebih pintar dari pemain. Postulat itu di mana pun berlaku di seantero dunia.
Lawan Thailand dan di semifinal nanti bila mau efisien, umpan silang dari Syukur harus diarahkan lebih variatif. Bola lambung parabolik yang terlalu 'dalam' masuk langsung ke mulut gawang mudah dipetik penjaga gawang di udara. Bola angkat Zulkilfi di malam versus Negeri Jiran buruk hasilnya, tapi bukan berarti dia dilarang mencoba lagi. Perbaikan itu mulai dia tunjukkan saat menghadapi Laos.
Lebih jauh menilai performa timnas Indonesia, terlihat jelas dinamika seimbang di kedua sayap. Di kiri, Nasuha terfokus kerjanya mengawal pertahanan. Tak kecil pula perannya melaju kencang, menyilangkan si kulit bundar, sampai bek Malaysia bunuh diri, menyamakan skor, membangkitkan mental bertanding 10 rekannya.
Di depan Nasuha, mobilitas Oktavianus Maniani lebih konstan menyerang. Sedangkan M Ridwan dapat lebih intensif diinstruksikan bermain menjorok lebih ke dalam demi membantu Bustomi sebagai gelandang jangkar bayangan. Sesekali saja Ridwan mengais peruntungan di sisi yang melebar ke kanan. Maka, normal jadinya kalau Syukur diperintah “main angkat” saja.
Naluri serang milik para gelandang Indonesia sudah masuk kategori 'mengerikan' seperti film horror bagi pemain Laos dan Malaysia. Hanya tiga gol dikemas penyerang: Gonzales (1) dan Bachdim (2). Sisanya dibagi rata Ridwan, Firman, Arif (2) dan Okto (1). Kalkulasi gol itu bukan berarti para striker bemain lebih buruk dari pemain tengah. Kedewasaan duet Irfan-Cristian patut diapresiasi tersendiri. Mereka sopan mempersilakan rekan-rekannya yang lain juga dapat nama.
Pengatur serangan Firman Utina masih sesekali "main paksa" terdorong naluri kreatifnya. “Main paksa” yakni, umpannya sering memaksakan diri untuk ditendang kuat dan jauh langsung mengacau barisan pertahanan lawan. Sejauh ini “pemaksaan” ala Firman menemukan harinya: pergerakan antarlini pemain jadi terjalin dalam ruang yang lebih luas dari sekadar mematuhi range-marking dalam patron 4-4-2, apalagi ditimbali pula taktik umpan pendek kombinasi yang efektif.
Bustomi perlu sedikit main jadi aktor. Dia bisa lebih menghayati perannya sebagai gelandang jangkar. Sebuah kartukuning, dari cara menjegal yang mestinya tak perlu dilakukan, sudah dia kantongi saat menghambat pemain Laos yang menguasai bola bukan di zona berbahaya.
Tak ada yang perlu dibahas soal bagaimana menyerang. Sebab Maman Abdurrahman pun sudah tahu di mana letak gawang musuh. Hitunglah sendiri berapa jumlah gol.
Kalau boleh jujur, okezone suka dengan perkataan pelatih Alfred Riedl, "Seharusnya Indonesia jadi nomor satu atau paling tidak nomor dua di Asia Tenggara." Maka, mengalahkan Malaysia dan Laos harus jadi kegiatan rutin sehari-hari seperti kalau kita sedang kebelet hendak pergi ke belakang. Tak perlu berlebihan jumawa.
Performa Indonesia kontra Malaysia dan Laos tak banyak berbeda. Kini kewaspadaan perlu dinaikkan levelnya karena calon lawan di semifinal dari Grup B mulai "membaca" sepak-terjang Indonesia.
okezone
okezone
